kajian
Kajian Perhiasan Wuli dari Kabupaten Ngada

UPT Museum Daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur
2023 - Kolaborasi

Kajan Koleksi Perhiasan Wuli dilakukan berkaitan dengan kehidupan masyarakat di Kabupaten Ngada Provinsi NTT. Wuli adalah sejenis kalung (hiasan leher dan dada) yang dirangkai dari kerang. Wuli sudah dikenal dan dipergunakan dalam ritual sejak zaman dahulu kala. Wuli sebagai alat/perlengkapan upacara dibuat oleh orang-orang khusus dengan upacara tertentu.  Wuli dipakai pada saat upacara peresmian rumah adat, dalam upacara Ka Ngadhu, upacara kematian tidak wajar.

kajian
Kajian Peristiwa Sejarah Perang Puputan Klungkung 28 April 1908

UPTD Monumen Perjuangan Rakyat Bali
2019 - Kolaborasi

Puputan Klungkung diawali oleh peristiwa Perang Gelgel yang meletus tanggal 18 April 1908. kemudian tanggal 21 April 1908 Belanda mengerahkan angkatan lautnya dari pantai Jumpai dan keesokan harinya mendarat di Kusamba dan menyerang Klungkung dari arah timur, barat, dan selatan. Raja Klungkung I Dewa Agung Jambe beserta keluarga dan rakyat bertempur habis-habisan (puputan) sampai gugur.

kajian
Kajian Peristiwa Sejarah Perang Kusamba 24-25 Mei 1849 : Perjuangan Melawan Kolonialisme di Bali

UPTD Monumen Perjuangan Rakyat Bali
2019 - Pengelola Museum

Bermula dari terdamparnya dua skoner (perahu) milik G.P. King, pedagang Belanda yang berkedudukan di Ampenan, Lombok di pelabuhan Batulahak, di sekitar Pesinggahan. Kapal ini kemudian dirampas oleh penduduk Pesinggahan dan Dawan. Raja Klungkung sendiri menganggap kehadiran kapal yang awaknya sebagian besar orang-orang Sasak itu sebagai pengacau sehingga langsung memerintahkan untuk membunuhnya. Oleh Mads Lange, seorang pengusaha asal Denmark yang tinggal di Kuta, melaporkan kejadian tersebut kepada wakil Belanda di Besuki. Residen Belanda di Besuki memprotes keras tindakan Klungkung dan menganggapnya sebagai pelanggaran atas perjanjian 24 Mei 1843 tentang penghapusan hukum Tawan Karang. Kegeraman Belanda bertambah dengan sikap Klungkung membantu Buleleng dalam Perang Jagaraga, April 1849. Ekspedisi Belanda yang baru saja usai menghadapi Buleleng dalam Perang Jagaraga, langsung dikerahkan ke Padang Cove (sekarang Padang Bai) untuk menyerang Klungkung. Diputuskan, tanggal 24 Mei 1849 sebagai hari penyerangan. Sudah sejak lama Kerajaan Bali menjalankan Tawan Karang, yakni hak untuk merampas kapal-kapal karam di perairan Bali dan seisinya termasuk anak buah kapal sebagai aset mereka. Pada tahun 1841, hak ini diberlakukan atas kapal Belanda; yang kemudian menimbulkan protes, di mana Kerajaan Buleleng, Karangasem dan Klungkung beserta penerusnya bersungguh-sungguh menerapkan hak itu dan menawarkan perompak dan pedagang budak untuk melawan; Diperkirakan hingga tahun 1844 perjanjian tersebut tetap dijalankan. Pada tahun itu juga, ketika sebuah kapal milik Belanda terdampar di Bali, kapal itu dirompak dan protes Belanda atas perlakuan itu diabaikan, yang berarti penguasa Bali melanggar kesepakatan, sehingga pemerintah kolonial di Jawa tidak dapat lagi mentoleransi dan melancarkan ekspedisi ini.

kajian
Perlawanan Sagung Ayu Wah : Dalam Pabalik Wongaya

UPTD Monumen Perjuangan Rakyat Bali
2020 - Kolaborasi

Sagung Wah adalah seorang perempuan Tabanan Bali yang memiliki semangat patriotisme untuk dapat mempertahankan negara dan tanah tumpah darahnya dari tangan penjajah pada tahun 1906

Testimoni